
Indonesia
- Kemenag
Dalam ayat ini dijelaskan ketika Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam, mereka menaati perintah itu dan sujud kepada-nya. Hanya Iblis yang menolak perintah itu. Malaikat yang selalu taat kepada Allah termasuk makhluk gaib, tidak seorangpun yang mengetahui hakikat-nya. Menurut penjelasan Al-Qur'an, malaikat terbagi menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan mempunyai tugas masing-masing. Dalam Islam, yang memberi ilham kepada manusia untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan adalah malaikat, sebagaimana yang terjadi pada kisah Maryam a.s. Sedangkan yang menggoda dan menimbulkan was-was dalam hati manusia ialah setan. Dia ingin mendorong manusia berbuat kejahatan, sebagaimana firman Allah swt:
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir). (al-Baqarah/2: 268)
Malaikat dan setan adalah makhluk rohani yang memiliki hubungan dengan jiwa manusia, namun tidak diketahui hakikatnya. Manusia harus beriman sebagaimana yang diperintahkan dalam rukun iman tanpa menambah dan menguranginya. Semua manusia bisa merasakan bahwa jika ia bermaksud mengerjakan sesuatu, terjadi pergolakan dalam jiwanya antara cenderung kepada kebaikan atau kejahatan, hingga keinginan yang satu mengalahkan yang lain. Jika kita cenderung kepada kebaikan, itu adalah akibat dorongan malaikat, dan jika cenderung kepada kejahatan, maka itu adalah dorongan setan.
Dilihat dari segi kejadian, keduanya berasal dari unsur yang berbeda. Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin atau setan diciptakan dari lidah api. Firman Allah swt:
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. (ar-Rahman/55: 15)
Sabda Rasulullah saw:
Malaikat diciptakan dari cahaya, Iblis diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan seperti yang diceritakan kepadamu. (Riwayat Muslim dari 'a'isyah r.a.)
Iblis menolak sujud kepada Adam karena menurutnya, unsur api lebih tinggi dari tanah. Karena Adam dibuat dari unsur tanah, Iblis merasa hina jika disuruh sujud dan hormat kepadanya, sebagaimana yang diceritakan Allah dalam firman-Nya:
(Allah) berfirman, "Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?" (Iblis) menjawab, "Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (al-A'raf/7: 12)
Pendapat Iblis ini sangat keliru karena ketinggian derajat dan kemuliaan tidak tergantung pada asal usul, melainkan pada ketaatan kepada Allah. Karena tidak mau sujud kepada Adam, maka Iblis menjadi fasik dalam artian tidak taat kepada perintah Tuhan. Iblis menolak untuk taat karena isi perintah Allah tersebut berlawanan dengan jalan pikirannya. Jadi, dia keberatan untuk sujud kepada Adam. Iblis memiliki bakat suka membang-kang dan selalu melakukan perlawanan sesuai dengan dasar kejadiannya dari nyala api.
Sesudah menjelaskan kefasikan Iblis, Tuhan mengingatkan manusia agar jangan sampai menempatkan Iblis dan keturunannya sebagai pemimpin, karena mereka adalah musuh manusia dan musuh Tuhan. Banyak riwayat, baik yang datang dari Nabi Muhammad saw maupun dari sahabat, yang menunjukkan Iblis dan keturunannya (setan) terus-menerus berkembang-biak, dan umat manusia diingatkan agar tidak tergoda rayuannya untuk mengikutinya.
Setan bertebaran di muka bumi ini untuk menggoda manusia. Hanya manusia yang zalim yang tunduk kepada godaan setan dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan pelindung. Sungguh, setan itu seburuk-buruk makhluk Allah. Orang-orang yang mengikuti setan dikatakan zalim karena Allah swt yang telah menurunkan rahmat dan kenikmatan kepada mereka ditinggalkan dan lebih memilih ajakan setan.

English
- Al-Jalalayn
And when idh is dependent because it is governed by an implicit udhkur ‘mention when’ We said to the angels ‘Prostrate before Adam’ a prostration involving a bow not placing one’s forehead down to the ground as a greeting to him; and so they prostrated all except Iblīs. He was one of the jinn — some say that these creatures are a species of angels in which case the exceptive clause illā Iblīs ‘except Iblīs’ is a continuous one; but it is also said to be discontinuous since Iblīs is considered the progenitor of all the jinn having offspring who are mentioned alongside him further below; angels on the other hand do not have offspring; and he transgressed against his Lord’s command that is to say he rebelled against obedience to Him by refraining from performing the prostration. Will you then take him and his offspring — this address is to Adam and his progeny the final pronominal suffix hā’ in both words refers to Iblīs for your patrons instead of Me obeying them when they are an enemy to you? in other words when they are your enemies wa-hum lakum ‘aduwwun is a circumstantial qualifier. How evil for the evildoers is that substitute! of Iblīs and his offspring in obeying them instead of obeying God.