logo
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Surah Asy-Syura Ayat 51

home icon
51

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

Indonesia Terjemahan Indonesia:

Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.

English English Translation:

And it is not for any human being that Allah should speak to him except by revelation or from behind a partition or that He sends a messenger to reveal, by His permission, what He wills. Indeed, He is Most High and Wise.

Dengarkan Ayat Ini

Suara:

Abdurahman As-Sudais
Misyary Rashid Alafasy
Abu Bakr Al-Shatri
Sa'ad Al-Gamdhi
Maher Al-Mueaqly

Tafsir

Indonesia Indonesia
- Kemenag

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Allah tidak akan berkata-kata dengan hamba-Nya kecuali dengan salah satu dari tiga cara seperti berikut ini: 1. Dengan wahyu, yakni Allah menanamkan ke dalam hati sanubari seorang nabi suatu pengertian yang tidak diragukannya bahwa yang diterimanya adalah dari Allah. Seperti halnya yang terjadi dengan Nabi Muhammad saw. Sabda beliau: Sesungguhnya Ruhul Qudus telah menghembuskan ke dalam lubuk hatiku bahwasanya seseorang tidak akan meninggal dunia hingga dia menerima dengan sempurna rezeki dan ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah dan berusahalah dengan cara yang sebaik-baiknya. (Riwayat Ibnu hibban) 2. Di belakang tabir yakni dengan cara mendengar dan tidak melihat siapa yang berkata, tetapi perkataannya itu didengar, seperti halnya Allah berbicara dengan Nabi Musa, Firman Allah : Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." (Allah) berfirman, "Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku. (al-A'raf/7: 143) 3. Mengutus seorang utusan, yakni Allah mengutus Malaikat Jibril, maka utusan itu menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana halnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw dan kepada nabi-nabi yang lain. 'Aisyah meriwayatkan bahwa al-harits bin Hisyam bertanya kepada Nabi saw, "Bagaimana cara wahyu datang kepadamu?" Rasulullah saw menjawab, "Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Cara inilah yang sangat berat bagiku. Setelah ia berhenti, aku telah mengerti apa yang telah dikatakan-Nya; kadang-kadang malaikat mewujudkan dirinya kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, maka aku mengerti apa yang dibicarakannya". Berkata 'Aisyah ra, sesungguhnya saya lihat Nabi ketika turun kepadanya wahyu di hari yang sangat dingin, kemudian setelah wahyu itu berhenti terlihat dahinya bercucuran keringat. (Riwayat a

English English
- Al-Jalalayn

And it is not possible for any human that God should speak to him except that He should reveal to him by revelation in sleep or by inspiration or except from behind a veil where He makes the person able to hear His speech but without seeing Him — as was the case with Moses peace be upon him; or except that He should send a messenger an angel such as Gabriel and he the messenger then reveals to the person to whom he has been sent that is to say and then he speaks to him with His permission that is God’s whatever He God will. Truly He is Exalted above the attributes of created beings Wise in His actions.