logo
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Surah Maryam Ayat 8

home icon
8

قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَّقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

Indonesia Terjemahan Indonesia:

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”

English English Translation:

He said, "My Lord, how will I have a boy when my wife has been barren and I have reached extreme old age?"

Dengarkan Ayat Ini

Suara:

Abdurahman As-Sudais
Misyary Rashid Alafasy
Abu Bakr Al-Shatri
Sa'ad Al-Gamdhi
Maher Al-Mueaqly

Tafsir

Indonesia Indonesia
- Kemenag

Nabi Zakaria a.s. setelah diberitahu akan mempunyai seorang putra bertanya kepada Allah. Pertanyaan itu timbul bukan karena keragu-raguan tentang kekuasaan Allah, akan tetapi untuk mendapat penjelasan tentang caranya, karena beliau merasa sudah tidak mampu lagi untuk memiliki putra, dan istrinya mandul. Apakah beliau akan dijadikan seperti seorang pemuda lagi dengan kekuatan fisik yang cukup, atau istrinya akan dikembalikan menjadi seorang perempuan muda yang dapat melahirkan seorang anak, ataukah beliau harus kawin lagi dengan seorang perempuan lain yang tidak mandul? Karena Zakaria sangat gembira dengan berita akan mendapat seorang anak itu, dan beliau penuh dengan rasa keheranan tentang cara-cara pelaksanaannya, maka beliau tidak dapat menahan diri untuk menanyakan hal itu kepada Tuhannya. Maka dijawab dengan firman Allah pada ayat berikut ini:

English English
- Al-Jalalayn

He said ‘My Lord how shall I have a son when my wife is barren and I have reached infirm old age?’ ‘itiyyan derives from the verb ‘atā ‘it became withered’ in other words he had reached extreme old age 120 years; and his wife had reached the age of 98 ‘atiya in terms of its root derives from ‘utuwwun but the tā’ is vowelled as -ti- to soften it the first wāw vowel is changed into a yā’ to be in harmony with the –ti- vowelling while the second wāw letter is changed into a yā’ so that the previous yā’ can be assimilated with it.