
Indonesia
- Kemenag
Tidak sama ganjaran yang akan diperoleh oleh orang yang beriman di akhirat dengan ganjaran yang akan diperoleh oleh orang yang tidak beriman. Ayat ini melukiskan keadaan surga dan neraka dalam bentuk simbolis yang menarik sekali. Di mulai dengan kata "perumpamaan"(matsalul jannati). Pertama "surga", dan "perumpamaan" kedua, "samakah" (kaman) yang dirangkum dalam nada tanya. Kata az-Zamakhsyari (dalam al-Kasysyaf), ungkapan ini dalam bentuk afirmasi, tetapi hakikatnya penyangkalan, suatu negasi.
Sifat-sifat surga yang dijelaskan dalam ayat ini di antaranya: pertama, di dalamnya mengalir sungai yang banyak dan setiap sungai mempunyai air yang berbagai macam jenis dan rasanya serta enak diminum oleh para penghuni surga. Di antara jenis air itu ialah:
1.Ada yang airnya jernih lagi bersih, tidak dikotori oleh suatu apa pun. Oleh karena itu, tidak akan berubah rasa, warna, dan baunya.
2.Ada sungai yang mengalirkan air susu yang baik diminum. Susu itu tetap baik dan enak, tidak akan berubah rasanya karena rusak atau busuk.
3.Ada sungai yang mengalirkan khamar yang enak diminum, menyehatkan, dan menyegarkan tubuh dan perasaan peminumnya. Tidak seperti khamar di dunia. Sekali pun enak diminum oleh pecandunya, tetapi dapat merusak tubuh, akal, dan pikiran. Oleh karena itu, khamar di surga halal diminum, sedangkan khamar di dunia haram.
4.Ada sungai yang mengalirkan madu yang bersih, seperti madu yang telah disaring, enak, dan menyehatkan badan peminumnya.
Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidhi, dan lain-lain dari Mu'awiyah bin haidah, ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Di surga ada lautan susu, lautan air, lautan madu, dan lautan khamar, kemudian mengalirlah sungai-sungai dari lautan-lautan itu." (Riwayat Ahmad, at-Tirmidhi, dan lain-lain dari Mu'awiyah bin haidah)
Kedua, di dalam surga terdapat buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya, berbeda warna, bentuk, dan rasanya. Semuanya merupakan makanan yang enak bagi setiap penghuni surga.
Ketiga, pendudu

English
- Al-Jalalayn
A similitude a description of the Garden promised to the God-fearing the Garden that is shared equally by all those who enter it this first clause is the subject of which the predicate follows therein are rivers of unstaling water read āsin or asin similar in form to dārib ‘striker’ and hadhir ‘cautious’ that is to say one that does not change in contrast to the water of this world which may change due to some factor; and rivers of milk unchanging in flavour in contrast to the milk of this world on account of its issuing from udders and rivers of wine delicious to the drinkers in contrast to the wine of this world which is distasteful to drink; and also rivers of purified honey in contrast to the honey of this world which when it issues out of the bellies of bees becomes mixed with wax and other elements; and there will be for them therein varieties of every fruit and forgiveness from their Lord for He is pleased with them in addition to His beneficence towards them in the way mentioned in contrast to one who is a master of servants in this world who while being kind to them may at the same time be wrathful with them. Is such a one like him who abides in the Fire? ka-man huwa khālidun fī’l-nāri the predicate of an implied subject which is a-man huwa fī hādha’l-na‘īm ‘Is one who is amidst such bliss as him who abides in the Fire?’. And they will be given to drink boiling water which rips apart their bowels that is their entrails so that these will be excreted from their rears. Am‘ā’ ‘bowels’ is the plural of mi‘an its alif being derived from the yā’ of their saying mi‘yān as an alternative singular to mi‘an.